Skizhofrenia
Skizofrenia bisa terjadi pada siapaun dalam jangka usia berapapun. Skizofrenia adalah gangguan metal yang terjadi pada diri seseorang yang dimana orang tersebut mengalami halusinasi, delusi atau waham, kekacauan berpikir, dan perubahan perilaku. Dengan kata lainnya seseorang sedang dalam keadaan kesulitan membedakan kenyataan yang ada dengan pikirannya sendiri.
Skizofrenia berbeda dengan psikosis. Psikosis hanya gejala dari beberapa gangguan mental yang salah satunya skizofrenia. Menurut data dari WHO, orang mengalami skizofrenia berisiko mengalami kematian usia muda sekitar 2 sampai 3 kali dari 21 juta orang di seluruh dunia yang terkena skizofrenia. Tak banyak dari penderita dari skizofrenia ini juga menderita gangguan mental dikarenakan penyalahgunaan narkoba, depresi, dan gangguan kecemasan.
Pada kasus yang terjadi pada pasien yang terkena skizofrenia ini memiliki berbagai terapi yang dapat diterapkan. Terapi psikososial dimaksudkan agar pasien mampu kembali beradaptasi dengan lingkungan sosial sekitarnya, mampu merawat diri dan tidak bergantung pada orang lain (Hawari, 2007, h. 109). Sedangkan pasien gangguan jiwa Skizofrenia yang berulang kali kambuh dan berlanjut kronis serta menahun maka selain program terapi seperti tersebut diatas diperlukan program rehabilitasi (Hawari ,2007, h. 116).
Keberfungsian sosial pasien Skizofrenia pasca perawatan juga dapat ditingkatkan melalui program intervensi keluarga. Intervensi keluarga perlu dilakukan secara terstruktur dan dikoordinasikan dalam model perawatan yang menyeluruh agar lebih efektif sehingga membantu pasien meraih penyesuaian sosial yang maksimal (Nevid, 2003, h. 135).
Pendekatan yang bisa dilakukan untuk membantu pasien Skizofrenia pasca perawatan untuk meningkatkan fungsi sosialnya adalah melalui social skill training untuk meningkatkan kualitas hidup setelah pasien keluar dari rumah sakit.
Kunci dari keberhasilan kesembuhan dari pasien skizofrenia itu terletak pada dukungan mental dari pihak keluarganya. Dengan cara memperhatikan asuhan yang diperlukan pasien dan apa yang dibutuhkannya, dengan begitu akan sedikit mengurangi kekambuhan yang terjadi pada pasiennya.
Dukungan keluarga dapat memperkuat setiap individu, menciptakan kekuatan keluarga, memperbesar penghargaan terhadap diri sendiri, mempunyai potensi sebagai strategi pencegahan yang utama bagi seluruh keluarga dalam menghadapi tantangan kehidupan sehari-hari serta mempunyai relevansi dalam masyarakat yang berada dalam lingkungan yang penuh dengan tekanan.
Selain itu juga adanya keberfungsian sosial yang juga diperlukan oleh pasien dalam melakukan kegiatan-kegiatan yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan dasar diri dan menjalankan tugas-tugas serta peran sosialnya. Dari segi aspeknya ada memenuhi/merespon kebutuhan dasarnya, melaksanakan peran sosial sesuai dengan status dan tugas-tuganya, serta menghadapi goncangan dan tekanan.
Oleh karena itu dukungan dari sekitar lingkungan pasien sangat diperlukan adanya untuk meredam terjadi kambuh bahkan bisa dihilangkan dari skizofrenia tersebut. Jika seseorang di lingkungan sekitar kita mengalami hal tersebut, hal utama yang kita berikan adalah dorongan semangat untuk mencoba sembuh dan memberikan sikap hangat, penuh perhatian, dan tidak melarang untuk melakukan aktivitas apapun yang baik.
DAFTAR PUSTAKA
Ambari, Prinda Kartika Mayang. Hubungan Antara Dukungan Keluarga dengan Keberfungsian Sosial pada Pasien Skizofrenia Pasca Perawatan di Rumah Sakit. Fakultas Psikologi. Universitas Diponegoro. Maret 2010
Komentar
Posting Komentar